Seorang Kaka Kandung Pasien RS Permata Cirebon Diduga Ditahan Demi Jenajah Adiknya Agar Bisa Di Makamkan

Cirebon – Mitrapolisi.com Berawal Berdasarkan Kesaksian dari seorang Narasumber yang turut mengurus kepulangan jenasah atas nama Adam Sapi’I warga asal Desa Pamengkang Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon Jawa Barat, salah-satu pasien Rumah Sakit Permata Cirebon yang meninggal karena sakit pada tanggal 9 Agustus 2023.

 

Narasumber menjelaskan, pasien atas nama Adam dirawat sejak tanggal 1 sampai tanggal 9 Agustus, dan untuk pembiayaan pasien sudah ter-cover oleh BPJS semenjak tanggal 4 sampai tanggal 9 Agustus, namun sisanya tanggal 1 sampai 3 Agustus untuk pembiayaan pasien dimasukan ke umum dan harus bayar kurang lebih 9,5 juta rupiah.

 

“Yang menjadi pertanyaan apakah pembiayaan pasien tertanggal 1 sampai Tanggal 3 dibiayai oleh BPJS atau harus dibayar secara Umum,?” Kata Narasumber pada media ini. 10/08/23

 

Namun yang sangat memprihatinkan, menurut narasumber, ketika Jenazah pasien mau dipulangkan pada tanggal 9 Agustus 2023 dikarenakan masih ada tunggakan yang harus dibayar dan pada waktu itu keuangan belum ada akhirnya Kakak Kandung dari Almarhum diduga ditahan oleh pihak Rumah Sakit Permata Cirebon sebagai jaminan.

 

“Selama 12 Jam mulai jam 10 pagi sampai jam 10 malam kakak kandung dari pasien diduga ditahan oleh pihak Rumah Sakit Permata Cirebon sebagai jaminan sebelum ada pelunasan pembayaran, bahkan selama proses penahanan psikis dari Kakak pasien sangatlah terganggu, setiap melakukan penggerakan aktifitas di sekitaran Rumah Sakit selalu diawasi, “ucapnya

 

Narasumber menambahkan, yang sangat menyedihkan, kakak Kandungnya tidak bisa menghadiri dan menyaksikan pemakaman Adiknya. Dan memang pada waktu itu tidak ada sanak saudara yang mau menggantikan atau tukar kepala dengan Kakak Kandung pasien yang dijadikan Jaminan, atau belum ada barang berharga yang bisa dijaminkan. Namun, setelah acara pemakaman dan tahlilan selesai baru ditemukan BPKB Motor Almarhum yang langsung diserahkan kepada pihak Rumah Sakit Permata sebagai tukar jaminan dengan Kakak Kandung Pasien itupun sekitaran jam 10 malam baru bisa tukar jaminannya.

 

Iwan selaku Kakak Kandung Pasien memberikan tanggapan ketika dikonfirmasi oleh Tim Media, ia membeberkan, awalnya pihak keluarga pasien memohon kepada pihak rumah sakit agar jenazah bisa dipulangkan terlebih dahulu namun dari pihak Rumah Sakit Permata Cirebon mengizinkan pasien pulang asal ada salah-satu keluarga yang tinggal. Atau sebagai penggantinya harus ada surat berharga salah-satunya BPKB sebagai bentuk jaminan dan itu adalah sudah aturan Rumah Sakit.

 

“Saya tidak bisa pulang kalaupun pulang harus ada pengganti jaminan minimal BPKB atau melunasi tunggakan sebesar Rp 9,5 juta rupiah yang terhitung sejak tanggal 1 sampai 3 Agustus. karena pikiran saya lagi kacau jadi pada waktu itu tidak bisa berpikir,” tutur Iwan pada tim Media ketika dikonfirmasi melalui pesan Whatsapp.

 

Selama 12 jam dari jam 10 pagi sampai jam 10 malam di Rumah Sakit Permata Cirebon Iwan menceritakan, kalau bersifat penekanan tidak ada cuma merasa diperlakukan tidak nyaman seperti layaknya pelaku Kriminal diawasi terus oleh dua Satpam dari lantai dua bahkan sampai ibadah sholat saja dikawal, sampai mau beli makanan dan minuman pun tidak bisa dan juga tidak dikasih makan dan minum.

 

“Saya merasa benar-benar stres Gelisah sendirian diruang tunggu gak bisa ngapa-ngapain cuma bisa berdoa dalam hati buat Almarhum adik Saya, dan yang menjadi penyesalan sangat dalam saya sebagai Kakaknya tidak bisa mengikuti menyaksikan acara pemakaman Kakak saya,” Keluhnya.

 

Akhirnya pada jam 10 malam Iwan baru bisa pulang karena ada perwakilan dari keluarga pasien datang menjemput dengan membawa jaminan BPKB Motor dan uang tebusan sebesar Rp 4 juta rupiah dari total semua yang harus dibayar sebesar 9,5 juta rupiah.

 

Selang satu hari setelah peristiwa itu terjadi Media ini menemui pihak Rumah Sakit Permata Cirebon untuk meminta tanggapan demi keseimbangan informasi lalu dipertemukan dengan beberapa perwakilan dari pihak Rumah Sakit Permata Cirebon diantaranya yaitu, Apt. Triani Kurniawati, S.Farm., M.Sc. (Jabatan Humas) yang didampingi Moudy Alvianti, A.Md.Kes (Jabatan PIPP BPJS). Evda Evayanti, SE (Manager Keuangan). Oktavia Risnawati, AMK (Manager on Duty).

 

Mengenai pembiayaan yang dibiayai oleh BPJS atas Nama Pasien Almarhum Adam Sapi’i yang diketahui dirawat mulai tanggal 1 sampai tanggal 9 Agustus 2023. Triani Kurniati selaku pihak Humas Rumah Sakit Permata Cirebon yang didampingi Moudy Alvianti, A.Md.Kes (Jabatan PIPP BPJS) menjelaskan pada Media ini bahwa pembiayaan untuk pasien atas nama Adam Sapi’i baru bisa aktif pada tanggal 4 Agustus 2023 jadi terhitung ke belakang dari tanggal 1 sampai tanggal 3 pasien tidak ter-cover oleh BPJS akan tetapi masuk ke pasien umum sehingga munculah angka nominal pembiayaan sebesar Rp. 9 juta rupiah yang harus dibayar.

 

“Kenapa ada selisih pembiayaan pasien atas nama Adam, karena pada tanggal 1 Agustus pasien masuk Rumah Sakit Permata Cirebon sampai tanggal 9 Agustus dan keluarga pasien baru mengaktifkan BPJS pada tanggal 4 Agustus sehingga menurut ketentuan yang ada BPJS baru bisa aktif Maksimal 3X24 jam, yang akhirnya dari tanggal 1 sampai tanggal 3 Agustus pembiayaan tidak ter-cover oleh BPJS karena sudah terlambat lebih dari 3X24 jam.” Jelasnya pada Media ini. 10/08/2023

 

Menyinggung adanya dugaan penahanan salah-satu orang dari keluarga pasien. Oktavia Risnawati, AMK (Manager on Duty). rumah sakit Permata Cirebon menjelaskan, kemarin bukan menahan, cuma dalam proses kepulangan jenazah harus ada penyelesaian pembiayaan yang harus dibayar terlebih dahulu terhitung dari tanggal 1 sampai tanggal 3 Agustus.

 

“Dan kebenaran kemarin yang mengurus kepulangan jenazah perwakilan dari pihak keluarga pasien hanya ada pak Iwan selaku kakak kandung pasien, dan pihak rumah sakit menyarankan kalau ada pihak keluarga lain selain pak Iwan yang mau mengurus administrasi standby di rumah sakit, pak Iwan diperbolehkan pulang untuk mengurus jenazah Adiknya.” ucap Oktavia.

 

Senada diucapkan Evda Evayanti, SE (Manager Keuangan) Rumah Sakit Permata. mengatakan, pihak rumah sakit tidak melakukan penahanan kepada perwakilan Korban, namun ada proses administrasi yang belum diselesaikan. dan waktu itu perwakilan dari pihak keluarga pasien mengatakan bahwa sedang menunggu seseorang perwakilan dari keluarga lainnya yang akan menyelesaikan pembayaran, jadi kalau ada yang datang dan tidak ada perwakilan dari keluarga pasien yang disini nanti akan kebingungan. dan Alhamdulillah akhirnya ada penyelesaian dengan Deposit uang sebesar 4 juta rupiah berikut jaminan BPKB Motor dari total jumlah yang harus dibayar Rp 9 juta rupiah.

 

“Sampai saat ini pihak rumah sakit secara administrasi belum menganggap selesai, kamipun tidak melakukan penahanan kepada pihak dari perwakilan keluarga pasien namun itu keinginan sendiri karena merasa ada administrasi yang belum diselesaikan,” tuturnya.

 

Menurut Evda, mungkin Ada pemahaman yang perlu disamakan ketika posisi saat itu harus Ada kewajiban yang harus diselesaikan atau dipenuhi oleh keluarga pasien, jadi perwakilan dari keluarga pasien beranjak pun merasa diawasi. padahal itu si lahiriah yang datang dari dirinya sendiri merasa kemana-mana diawasi dan kalau pada waktu itu administrasi bisa diselesaikan sebenarnya hal itu tidak ada.

 

Evda mengakui bahwa tidak ada aturan Rumah Sakit yang mengatur mengenai jaminan bahwa yang harus dijaminkan adalah Orang. artinya, menurut Evda, ketika tidak ada yang bisa dijaminkan lalu seseorang itu menjaminkan dirinya itu tidak ada dalam aturan rumah sakit.

 

“Andaikan waktu itu bisa menyelesaikan administrasi dengan cepat mungkin hal ini tidak mungkin terjadi sampai menungu selama 12 jam,” fungkasnya. (TIM)